Zaman dahulu kala ada seorang kesatria pemberani bernama Tawara Toda yang lebih dikenal dengan julukan "Tuan Karung Beras" atau Fujiwara Hidesato. Suatu ketika dia pergi berlayar untuk berpetualang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seekor naga besar di sebuah jembatan.
Awalnya Hidesato berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan. Namun, sebagai seorang pemberani, dia mengesampingkan rasa takut dan memutuskan untuk menghadapi naga itu. Dia berhasil. Tak lama kemudian, dia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang. Naga itu menghilang dan berubah wujud menjadi sosok orang tua yang sedang berlutut memberi hormat padanya. Ternyata dia adalah raja naga di danau itu. Raja naga meminta bantuan Hidesato untuk mengalahkan lipan raksasa yang sering menyerang istananya di bawah danau.
Hidesato setuju membantu raja naga. Sesampainya di istana naga, dia disambut dengan gembira dan disuguhi berbagai hidangan lezat. Tak lama kemudian, lipan raksasa datang. Istana bergetar hebat karena seluruh penghuninya merasa ketakutan, tapi Hidesato tidak. Dia membisikkan busur kearah lipan itu. Dan melepaskan anak panahnya 3 kali. Namun, lipan itu ternyata kebal senjata. Hidesato berpikir keras, berusaha menemukan cara untuk membunuh monster itu karena anak panahnya tinggal satu. Lalu dia ingat, air ludah manusia sangat mematikan bagi monster itu.
Hidesato lalu melumuri anak panah terakhirnya dengan air ludah. Dia mengarahkannya tepat ke tubuh lipan. Lipan raksasa itu tidak bisa berkelit. Dia menggeliat kesakitan dan mati seketika. Raja sangat berterimakasih pada Hidesato dan memberinya hadiah. Sebagai tanda terimakasih, raja memberi 4 macam hadiah kepada Hidesato, berupa sebuah bel tembaga besar, satu gulung kain sutra, satu karung beras, dan sebuah panci untuk memasak.
Hadiah-hadiah itu ternyata benda-benda ajaib yang sangat berguna. Bel diberikannya ke sebuah kuil di desanya untuk digantung di sana. Karung beras tak pernah berkurang isinya berapapun banyak beras yang digunakan. Gulungan kain sutra tidak pernah menipis, meskipun dipakai untuk membuat pakaian para ksatria. Bahan makanan apapun yang dimasukkan ke panci selalu menjadi masakan lezat. Beras yang dimilikinya selalu di bagi bagikan kepada penduduk yang kesusahan. Itulah sebabnya dia dikenal dengan nama "Tuan Karung Beras".
Pesan Bijak : Perjuangan melawan kejahatan pasti akan berbuah kemenangan. Walaupun harus ditempuh dengan proses yang sulit dan berat. Ketika kemenangan direngkuh, kepuasan dan kebahagiaan sudah menunggu.
#kisahinspirasi #kisahjepang #kisahbijak #kisahpengantartidur #perjuangan #kesabaran #kebahagiaan
Sumber : Cesilia, 101 Kisah Bijak Dari Jepang, 2011, Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Kisah Bijakku : Tuan Karung Beras "
Posting Komentar